Mencampur Saham dengan Emas

emas dan saham

Salah satu pertanyaan klasik: lebih baik investasi emas atau saham? Emas merupakan alat investasi tertua dan paling mudah dipahami. Konon logam mulia ini sudah ada di peradaban manusia sejak 2.500 tahun sebelum masehi.

Persamaan emas dan saham adalah keduanya menawarkan keuntungan melalui kenaikan harga. Namun, sejatinya ”model bisnis” emas dan saham amat berbeda. Emas tidak menghasilkan arus kas operasional. Sekilo emas akan tetap sekilo emas sampai kapan pun. Tapi, satu kedai kopi Starbucks bisa beranak-pinak menjadi 17.009 kedai di 50 negara! Sejak menjadi perusahaan publik pada 1992, harga saham Starbucks telah melesat karena bisnisnya berkembang sehingga menjanjikan lebih banyak uang.

Harga emas berfluktuasi dengan alasan yang berbeda yakni bergantung besaran permintaan dan penawaran untuk emas. Dari segi imbal hasil, secara tradisional saham mengalahkan emas. Di Amerika Serikat, dengan data periode 1926-2006, investasisahammemberikanrata-ratakeuntungan 11 persen per tahun, sedangkan emas hanya 4,2 persen per tahun.

Pada periode 1981-2000, saham memberikan rata-rata keuntungan 13 persen per tahun, sedangkan emas hanya 2 persen per tahun. Sesuai prinsip ”high risk, high return”, dari segi fluktuasi harga, emas lebih rendah daripada saham. Namun, terjadi anomali selama satu dekade terakhir, Juli 2001 hingga Juni 2011, di mana harga emas naik rata-rata 19 persen per tahun.

Sedangkan harga saham hanya naik 2 persen! Bagaimana dengan di Indonesia? Bagi investor Indonesia membeli emas mengandung dua risiko: fluktuasi harga emas dunia yang biasanya dinyatakan dalam satuan dolar AS dan nilai tukar dolar AS ke Rupiah. Jika harga emas naik dan nilai tukar USD menguat, dipastikan harga emas dalam Rupiah akan melonjak. Konsekuensinya, jika harga emas turun dan nilai tukar USD melemah, harga emas dalam Rupiah akan anjlok.

Namun, jika harga emas turun dan nilai tukar dolar AS menguat, harga emas dalam Rupiah bisa tetap naik. Saya sajikan perbandingan antara imbal hasil saham (diwakili indeks harga saham gabungan atau IHSG) dan emas (catatan: harga emas dalam Rupiah) dalam beberapa rentang waktu (lihat tabel). Pada periode Desember 1997- Desember 2015, secara rata-rata investasi saham (13,1 persen per tahun) lebih menguntung daripada emas (12,5 persen per tahun).

Untuk investasi saham, belum ditambahkan penghasilan dari dividen. Jika imbal hasil dari dividen diperhitungkan (sekitar 1,5 persen), investasi saham memberikan keuntungan per tahun sekitar 14,5 persen. Pada periode Desember 2002 – Desember 2015, imbal hasil saham (20,7 persen per tahun) jauh lebih bagus daripada emas (12,7 persen).

Demikian pula untuk periode Desember 2008- Desember 2015, imbal hasil saham (18,9 persen) lebih kinclong daripada emas (6,3 persen). Pada periode Desember 2005- Desember 2015, imbal hasil saham (13,8 persen) hanya sedikit mengungguli emas (11,3 persen). Demikian pula untuk periode empat tahun terakhir (Desember 2011 – Desember 2015), imbal hasil per tahun saham (3,2 persen) dan emas (2,5 persen) sama-sama loyo, masih kalah dari suku bunga deposito!

Bagaimana kalau kita membeli produk hybrid antara saham dan emas? Misalnya membeli saham perusahaan penghasil emas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)? Well, bukan ide jenius karena ternyata kinerjanya tidak sebagus menyimpan emas. Pada Desember 1997 harga saham ANTM masih Rp3.800. Sekarang harganya tinggal Rp300. Dari segi risiko investasi, emas jelas mengungguli saham.

Tercatat selama periode 1997 – 2015, pertumbuhan harga emas tahunan hanya pernah negatif sebanyak empat kali. Sedangkan pertumbuhan IHSG tahunan pernah negatif sebanyak tujuh kali. Namun, emas mudah mengalami stagnasi harga dalam jangka waktu yang panjang. Misalnya, harga emas dunia hanya bergoyang sedikit selama 25 tahun pada periode 1980-2004! Ini berita buruk bagi investor yang punya penyakit ”get-evenitis” (belum mau jual jika masih rugi).

Dana investasi bisa nyangkut untuk jangka waktu teramat lama. Ada satu kelebihan emas yang membuat ia makin berkilau di mata investor, yakni kemampuannya untuk mengurangi risiko portofolio saham. Data menunjukkan bahwa saat bursa saham crash, harga emas cenderung tak terpengaruh. Ia bergeming bahkan malah naik. Misalnya, saat terjadi krisis Subprime Mortgage 2008 di AS, harga emas malah naik.

Sewaktu Indonesia mengalami Krisis Moneter 1998, harga emas dalam USD juga stabil. Artinya, emas memiliki fungsi lindung nilai alias hedging . Korelasi antara harga emas dan harga saham yang rendah terutama saat ekonomi memburuk merupakan sesuatu yang amat berharga dilihat dari kacamata diversifikasi risiko.

Kesimpulannya, emas bukanlah lawan saham. Keduanya bisa berkawan dan saling melengkapi. Untuk tujuan meminimalkan risiko portofolio, kita bisa mencampur saham dengan emas dalam keranjang investasi kita.

Lukas Setia Atmaja
Financial Expert – Prasetiya Mulya Business School

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *